Mau Kuliah di Luar Negeri? Ini caranya!

Dear readers!

How are you there? Maafkan sayaaaa, telah mendiamkan blog ini begitu lamaaaa. Yes, you know, tinggal di negara orang membuat saya sibuk ini itu dan sebenarnya bisa meluangkan waktu menulis sebentar tapi.. nanti deh saya recap aktivitas saya selama di sini beberapa bulan lalu ya πŸ™‚

Well, semalam says membaca sebuah artikel tentang kuliah di luar negeri. Judul artikelnyaΒ “Banyak Jalan Menuju Harvard”Β hmm menarik ya? Siapa yang ngga mau kuliah di sana? Saya sih mau bangeeets! πŸ˜‰

Nah artikelnya cukup menarik dan ingin saya bagi di sini. Karena saya merasa telah melakukan hal yang sebenarnya kurang tepat dilakukan untuk meraih cita-cita kuliah di luar negeri itu. Yes, the point is..

fokuslah pada sekolah-sekolah terbaik yang ingin kamu capai. Jangan fokus pada beasiswa yang tersedia!

Maksudnya gimana tuh? Nih simak tulisan berikut ini yaaa πŸ˜‰ Semoga bermanfaat!

“Tentang Beasiswa: Bagaimana Cara Membiayai Kuliah di Luar Negeri?”
Kamu kuliah di Harvard jalur biasa atau jalur beasiswa?
Dapat beasiswa dari mana, kok bisa kuliah di Harvard?
Itu adalah beberapa contoh pertanyaan pertama yang sering orang sampaikan ke saya begitu mereka tahu saya pernah kuliah di Harvard. Semua pertanyaan sah-sah saja, tapi yang saya heran, kenapa pertanyaan-pertanyaan pertama selalu tentang beasiswa? Bukannya kalau kagum atau heran saya kuliah di Harvard harusnya yang ditanyakan adalah bagaimana caranya bisa diterima? Toh kalaupun sesorang dapat beasiswa belum tentu dia bisa diterima di Harvard. Di sebagian besar sekolah yang baik, seleksi penerimaan mahasiswa terpisah dengan seleksi untuk beasiswa. Tidak ada hubungannya kemampuan membayar seseorang dengan diterima atau tidaknya di sekolah.
Lebih umum lagi, saya juga melihat perhatian yang membabi buta pada beasiswa. Ada banyak mailing list beasiswa, website beasiswa, Twitter beasiswa dan sejenisnya, tapi sedikit sekali tempat berdiskusi tentang kualitas sekolah dan bagaimana cara diterima di sekolah yang baik.
Saya mengerti sekolah di luar negeri itu mahal sekali. Kalau kita membandingkan pendapatan per kapita orang Indonesia dengan biaya kuliah di luar negeri, sepertinya kuliah di luar negeri itu tidak mungkin dibiayai sendiri. Jadi harus dapat beasiswa. Maka wajarlah muncul pertanyaan-pertanyaan seperti tadi. Yang ingin saya luruskan melalui tulisan ini adalah kesalahan menaruh perhatian membabi buta terhadap beasiswa sehingga melupakan hal lain yang lebih penting. Saya juga ingin menjelaskan bahwa membiayai kuliah di luar negeri itu mungkin sekali, dan ada banyak caranya.
Berikut adalah dua prinsip yang harus selalu dipegang:
1. Fokuslah untuk bisa diterima di sekolah yang baik, bukan mendapatkan beasiswa.
Prinsip utama dalam merencanakan sekolah di luar negeri adalah fokuslah untuk bisa diterima di sekolah yang baik, bukan mendapatkan beasiswa. Saya ulangi lagi: FOKUSLAH UNTUK BISA DITERIMA DI SEKOLAH YANG BAIK, BUKAN MENDAPATKAN BEASISWA. Saya ulangi sekali lagi: FOKUSLAH UNTUK BISA DITERIMA DI SEKOLAH YANG BAIK, BUKAN MENDAPATKAN BEASISWA.
Saya sering tercengang bagaimana banyak sekali orang bisa lupa bahwa dalam proses persiapan sekolah di luar negeri, tujuan utama seharusnya adalah dapat bersekolah di sekolah yang sebaik mungkin. Beasiswa hanyalah salah satu alat yang memungkinkan kita sekolah.
Saya umpamakan orang yang merencanakan sekolah ke luar negeri dengan seorang pria yang mencari istri. Saya umpamakan juga proses mendapatkan beasiswa dengan proses membeli mobil untuk menarik perhatian si calon istri. Fokus utama si pria seharusnya adalah memilih wanita yang akan dijadikan istri dan mengusahakan agar lamarannya diterima wanita tersebut, BUKAN membeli mobil agar dapat menarik perhatian wanita. Membeli mobil hanyalah suatu alat untuk menarik perhatian wanita, dan itu bukan satu-satunya alat. Memiliki mobil pun bukan jaminan lamaran si pria diterima wanita tersebut.
Fokus untuk mendapatkan beasiswa bisa berbahaya, karena:
a. Fokus pada beasiswa bisa membuat pelamar mengkompromikan kualitas pendidikan.
Ambil contoh seseorang yang berencana mengambil MBA di Amerika Serikat. Si pelamar ini fokus untuk mendapatkan beasiswa. Riset yang dia lakukan adalah mencari tahu beasiswa apa yang tersedia untuk program MBA di Amerika. Dari Google dia mendapat berbagai informasi.
Singkat kata si pelamar ini akhirnya berkuliah di Executive MBA Program Walden University. Padahal, universitas ini termasuk abal-abal. Padahal (lagi), program-program MBA terbaik di Amerika juga memberikan beasiswa, cuma dia tidak tahu saja, karena dia terlalu fokus mencari beasiswa, bukan mencari tahu program-program mana saja yang terbaik baru kemudian mencari tahu cara membiayai kuliah di sana.
Contoh lain, beberapa beasiswa membatasi sekolah yang boleh dilamar, sesuai dengan anggaran beasiswa. Di Amerika Serikat misalnya, banyak sekali universitas swasta yang sangat baik (misalnya universitas-universitas Ivy League) yang biaya kuliahnya lebih mahal daripada universitas negeri. Betapa sedihnya saat seorang penerima beasiswa terpaksa memilih sekolah yang lebih buruk kualitasnya karena himbauan atau bahkan larangan si pemberi beasiswa.
b. Periode aplikasi sebagian beasiswa tidak cocok dengan periode aplikasi sekolah.
Ambil contoh seseorang yang berencana mengambil master di bidang ekonomi di Inggris di tahun 2013. Si pelamar ini fokus untuk mendapatkan beasiswa dulu baru melamar ke sekolah. Beasiswa yang paling umum untuk orang Indonesia adalah Chevening. Aplikasi Chevening untuk tahun 2013 dibuka dari Oktober sampai Desember 2012. Penerima beasiswa diumumkan pada bulan Maret 2013.
Sementara itu, sebagian besar universitas di Inggris memberlakukan sistem rolling admission, artinya aplikasi yang masuk akan langsung diproses dan hasilnya diumumkan segera. Tidak ada batas waktu aplikasi; aplikasi diterima dan diproses sampai seluruh kursi terisi. Semakin lama, kursi yang terisi semakin banyak. Untuk kuliah tahun 2013, kebanyakan universitas mulai menerima aplikasi bulan September 2012. Pada bulan Januari 2013, sebagian besar kursi di sekolah-sekolah terbaik (seperti Oxford, Cambridge, dan London School of Economics) sudah terisi. Jika si pelamar menunggu sampai Chevening mengumumkan hasil beasiswa, baru melamar sekolah, katakanlah paling cepat di bulan April 2013, hampir dapat dipastikan dia tidak akan diterima di sekolah-sekolah terbaik. Bukan karena aplikasinya tidak berkualitas, tapi karena semua kursi sudah terisi. Dia terlambat memasukkan aplikasi.
Katakanlah si pelamar juga tidak bermaksud melamar ke sekolah-sekolah terbaik. Pertama, Chevening mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua tahun setelah lulus S1, sedangkan universitas sendiri tidak mensyaratkan hal ini. Kedua, seandainya si pelamar tidak mendapat beasiswa Chevening dan dia tidak jadi melamar ke sekolah karena itu, dia harus membuang waktu minimal satu tahun lagi sampai periode aplikasi beasiswa selanjutnya. Tidak ada jaminan juga tahun depannya dia akan mendapat beasiswa Chevening. Sampai berapa tahun dia harus menunggu sampai bisa mewujudkan mimpinya sekolah di Inggris? Padahal, kalau saja dia langsung melamar ke beberapa sekolah di Inggris (tanpa menunggu dia dapat beasiswa Chevening atau tidak) kemungkinan besar dia diterima sekolah (karena dia melamar ke beberapa sekolah).
c. Beasiswa mensyaratkan ketentuan yang mungkin tidak sejalan dengan ketentuan sekolah dan minat pelamar.
Lembaga pemberi beasiswa selalu punya misi, misalnya ingin memberdayakan kelompok masyarakat tertentu. Maka wajar jika mereka lebih memprioritaskan, atau bahkan memberi kuota khusus, untuk kelompok tertentu, misalnya wanita, pegawai negeri, orang yang berasal dari Indonesia Timur, atau korban tsunami. Mereka juga memprioritaskan atau hanya memberikan beasiswa untuk bidang tertentu, misalnya studi gender, studi hak azazi manusia, pertanian, atau tata kelola sumber daya air. Tentu itu haknya si pemberi beasiswa mensyaratkan macam-macam.
Tapi bagaimana kalau profil si pelamar dan minatnya tidak cocok dengan ketentuan beasiswa? Ambil contoh seorang pria pegawai bank swasta, asal Jakarta, yang ingin mengambil MBA. Akan sulit baginya mencari beasiswa yang cocok. Apakah dia harus mengubah bidang studi pilihannya demi memperbesar kemungkinan mendapat beasiswa? Atau dia harus menunggu sampai ada beasiswa yang mensyaratkan profil yang cocok?
2. Ada banyak sekali cara untuk membiayai sekolah, bukan hanya beasiswa.
Jadi kalau tidak dengan beasiswa, bagaimana caranya membiayai kuliah di luar negeri? Pertama, saya tidak pernah mengatakan jangan cari beasiswa. Beasiswa tetap merupakan salah satu sumber pembiayaan kuliah di luar negeri; yang saya katakan adalah fokuslah untuk dapat diterima di sekolah yang baik, dan usahakanlah berbagai sumber pembiayaan, termasuk dengan melamar secara strategis ke beberapa beasiswa.
Mari kita rinci berbagai alternatif pembiayaan untuk kuliah di luar negeri:
1. Beasiswa dari sekolah
Ambil contoh seorang yang ingin kuliah di Columbia University Graduate School of Journalism, Amerika Serikat, salah satu sekolah jurnalistik terbaik di dunia. Saya sama sekali tidak familiar dengan sekolah ini, tapi mampir sebentar saja di website sekolah ini, saya temukan daftar sekitar 100 jenis beasiswa yang ditawarkan sekolah sendiri untuk mahasiswanya.
Beasiswa ini biasanya dikelola langsung oleh sekolah, proses aplikasinya bersamaan dengan proses aplikasi sekolah, dan proses seleksinya dilakukan sendiri oleh sekolah (terpisah dari seleksi penerimaan mahasiswa). Kemungkinan besar, dari 100 beasiswa ini ada beberapa yang cocok dengan profil si pelamar. Yang paling penting adalah si pelamar harus diterima dulu di sekolah tersebut, sehingga dia bisa eligible untuk berbagai beasiswa tersebut.
2. Beasiswa dari luar sekolah
a. Beasiswa dari badan eksternal
Melanjutkan contoh kita, misalkan si pelamar mencari beasiswa lain yang disediakan pihak luar sekolah yang bisa dilamar calon mahasiswa jurnalistik dari Indonesia. Sebentar saja riset di internet, dia menemukan banyak beasiswa yang bisa dia lamar, seperti beasiswa Fulbright, Ford Foundation, USAID, Foreign Press Association, International Center for Journalists, dan lain-lain.
b. Beasiswa dari tempat kerja
Si pelamar pun bisa bernegosiasi ke tempatnya bekerja apakah mungkin ia disponsori untuk kuliah di luar negeri, baik berupa pembayaran uang kuliah, pembayaran seluruh atau sebagian gajinya saat dia sekolah, dan lain-lain.
3. Kerja paruh waktu
Kalau si pelamar diterima sekolah, saat dia mulai sekolah pun banyak cara membiayai kuliahnya, termasuk dengan bekerja paruh waktu. Dia bisa bekerja di sekolahnya sendiri misalnya sebagai teaching fellow, teaching assistant, researcher, assistant librarian, dan support assistant, Dia juga bisa bekerja di luar kampus misalnya sebagai penulis, penerjemah, tutor, researcher, bahkan profesi-profesi blue collar seperti pelayan, penjaga toko, pencuci piring.
4. Tabungan
Tentu saja si pelamar bisa membiayai sebagian biaya kuliahnya menggunakan tabungan pribadinya atau keluarganya.
5. Pinjaman (student loan)
Pelamar pun bisa mengambil pinjaman (student loan) yang periode cicilannya biasanya baru dimulai saat si peminjam sudah lulus dan bekerja, dan baru diharapkan lunas 10-20 tahun kemudian. Tidak semua orang yang kuliah di luar negeri tanpa beasiswa itu kaya raya. Mahasiswa asal Cina, India, dan Amerika Serikat sendiri berani mengambil pinjaman karena mereka tahu penghasilan mereka setelah lulus akan bisa meningkat signifikan. Anehnya, banyak calon mahasiswa Indonesia yang hanya berani menunggu beasiswa, entah sampai kapan, untuk mau kuliah. Padahal, orang-orang yang sama ini berani mengambil pinjaman untuk membeli harta seperti rumah atau mobil yang tidak akan meningkatkan potensi pendapatan mereka.
6. Donatur individu
Si pelamar pun bisa mendekati donatur individu yang potensial, misalnya alumni asal Indonesia dari sekolah yang ia tuju. Ia pun bisa melakukan kampanye pengumpulan sumbangan dari masyarakat luas. Saya sudah beberapa kali menyaksikan orang-orang yang mengumpulkan sumbangan agar bisa kuliah. Mereka sukses membiayai sekolahnya, dan setiap semester mereka memberikan laporan dan ucapan terima kasih bagi para donatur. Masih sangat sedikit orang Indonesia yang diterima di universitas-universitas terbaik dunia; jadi kalau anda sampai diterima, yakinlah, orang-orang akan bangga dan senang membantu anda.
—–
Jadi, ada banyak, banyak sekali cara untuk membiayai kuliah di luar negeri, tinggal tergantung usaha kita. Merefleksikan pengalaman pribadi, pada bulan Maret tahun 2010, saya berada di situasi di mana Saya diterima di enam universitas: Harvard, Columbia, Cornell, Chicago, New York University, dan London School of Economics, tapi belum mendapat satupun beasiswa. Sampai saat itu saya sudah melamar ke paling tidak 11 beasiswa: enam beasiswa internal Harvard Kennedy School, ditambah beasiwa eksternal seperti Fulbright (dua kali), Sampoerna Foundation (dua kali), Joint Japan-World Bank, dan lain-lain, saya sudah lupa apa lagi.
Saya tidak mendapat satu pun beasiswa ini. Selain itu, Saya pun sudah mendekati berbagai yayasan, walaupun Saya tahu mereka tidak menawarkan beasiswa. Akhirnya Saya mendapat beasiswa dari Rajawali Foundation. Saya tidak melamar ke beasiswa ini; Saya bahkan tidak tahu bahwa beasiswa ini ada. Harvard langsung mengalokasikan beasiswa ini begitu Saya diterima. Beruntung? Mungkin saja, tapi Saya lebih melihatnya sebagai hasil yang sesuai dengan usaha dan strategi yang optimal. Kalau Saya tidak meneruskan melamar sekolah saat ditolak beasiswa, mungkin sampai sekarang Saya belum sekolah.
Mencari sumber pembiayaan sekolah memang repot: menyita energi, waktu, dan pikiran. Tapi seperti yang dijelaskan di atas, caranya banyak. Apakah kita bisa mengatakan dengan jujur bahwa usaha kita untuk bisa kuliah di luar negeri sudah optimal? Anda harus luar biasa sial kalau tidak mendapat hasil sama sekali walau sudah mengusahakan semua cara yang dijelaskan di atas. Kalau masalahnya adalah malas, Saya tidak ada komentar πŸ™‚

How was it? Share your thoughts with me and feel free to send your email toΒ fahmirantiw@hotmail.comΒ πŸ™‚

yess

source:Β http://www.ayogitabisa.com/inspirasi/banyak-jalan-menuju-harvard.html
Advertisements

15 thoughts on “Mau Kuliah di Luar Negeri? Ini caranya!

  1. Bagus bangett ka artikelnyaaa ^^ aku mau tanya ka, kuliah yang bagus itu apa aja. dan keunggulannya apa jugaaa ? makasiih ka. butuhh reply nya banget. soalnya aku masih 2 SMA makasiiih πŸ™‚

    Like

    1. dear Mega,
      maaf baru membalas komen kamu, karena kesibukan saya yang belum memungkinkan untuk membalas komen di blog satu persatu hehehe
      jurusan yang bagus, maksudmu? hmm semua ilmu pada dasarnya baik, tergantung mana yang kamu sukai, bukan yang paling kamu bisa. Cari tau apa yang paling kamu minati dan tentu yang bermanfaat yaa.. saya memilih Ilmu Komunikasi sebenarnya tidak sengaja. Dari kecil ingin menjadi dokter spesialis anak, tapi karena mungkin belum rejekinya disitu, akhirnya saya dapat di Ilmu Komunikasi Unair pada saat SNMPTN 2011 dan alhamdulillah karena saya sangat menyukai bidang ini, rasanya belajar ilmu komunikasi itu senang terusss dan bisa optimal πŸ™‚
      banyak baca buku, googling ini itu, dan jgn lupa berdoa yaaa

      Like

  2. Kak,makasih sekali atas artikel nya ,sungguh menggugah semangat,.
    Kak mau tanya kk bisa kuliah diluar negeri sbnar nya dg jalur apa?dan bagaimana carnya kk agar sya juga bisa seperti kk?sbnarnya kuliah di luar negri itu juga bisa gak pake jalur tes?saya akan coba mmpersiapkan diri untuk bisa kuliah dinegri orang kk,.tolong reply ya kk,terimakasih banyak kk,.

    Like

    1. hai Siti,
      maaf baru sempat membalas. Saya dapat beasiswa keluar negeri karena dipilih dari kampus saya Universitas Airlangga. Beruntungnya, masuk kampus ini yang ternyata memiliki banyak kerjasama dngan beberapa kampus di Asia πŸ™‚ untuk tes, tiap program beasiswa itu berbeda-beda persyaratannya πŸ™‚ banyak belajar aja dari orang-orang yang pernah mendapat beasiswa hehe

      Like

  3. artikelnya membantuuu bangett kak..gak sabar pengen coba kak.
    mau tanya lagi kak,,cara test di harvard atau kuliah lain biasanya dijadwalkan kapan?pemberitahuannya didapat darimanakah?

    Like

  4. Mksh bgt u/artikel.a kak aq jdi mkin smangat u/ bsa kuliah di harvard krna itu adl impian aq sejak dulu,,,,,oh ya , apa di harvard ada yg pke kerudung kak???

    Like

    1. Halo Madina, aku belum kuliah di Harvard. Kalau kamu cermati postingan blog yang ini, sebenarnya aku menulis ulang tulisan dari seseorang yang pernah sekolah di Harvard. Tapi aku amini kata-katamu sebagai sebuah doa. Boleh juga sih aku kuliah di sana hehe soal pakai kerudung, pastinya ada deh di sana hehe

      Like

  5. kak klo awal sekolah di luar negeri kira” biaya visa, akomodasi dll. itu kita biaya sendiri apa dri univ kk sebelumnya? udah putus asa nih kak pengen kuliah di london tpi liat biaya hidupnya agak ragu πŸ˜₯

    Like

    1. hello, Cindy πŸ™‚
      kemarin aku di Korea ada yang di support kampus Unair, kampus di Korea, dan ada juga yg biaya sendiri. Soal biaya, tentu memang tidak murah. Tapi jangan khawatir, fokus aja mencapai apa yg kamu inginkan, kalau memang rezekinya, akan selalu ada jalan meski kita tidak mampu membayar. Kan biaya itu tidak harus kita bayar sendiri kan? πŸ™‚ Jgn jadikan biaya atau kemampuan finansial sebagai penghalang untuk kita mencari ilmu ke manapun πŸ™‚ semangat ya!

      Like

  6. Jadi lebih tahu tentang beasiswa dan cara masuk universitas luar negeri dengan baik, meskipun saya masih SMP tapi saya rasa menentukan universitas yang baik dari sekarang itu penting {}

    Like

  7. Bagus artikelnya memotivasi saya untuk bisa kuliah di luar negeri tanpa beasiswa… kak saya ingin sekali mengambil kursus pelatihan pelatih / psikologi olahraga kira2 dimana ya yg bagus…khususnya di australia…thx ka infonya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s