Rumah Tiara: Sebuah Inovasi Sosial Bagi Difabel di Surabaya

Berbicara tentang inovasi, tentu identik dengan sebuah penemuan baru untuk mengatasi masalah yang ada dan tentunya bermanfaat bagi banyak orang. Inovasi pun cenderung berkaitan dengan teknologi baik di bidang kesehatan, pertanian, lingkungan atau sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia pada umumnya. Hasil inovasinya pun kasat mata berupa produk seperti alat, infrastruktur, fasilitas baru, dan lainnya.

Tapi, bagaimana dengan inovasi di bidang sosial? Pernahkah Anda mendengar atau mengetahuinya?

A social innovation is a novel solution to a social problem that is more effective, efficient, sustainable, or just than current solutions. The value created accrues primarily to society rather than to private individuals. – Stanford Business School

Meski tidak kasat mata, inovasi sosial -seperti yang disebutkan dalam definisi di atas- memberi solusi terbaru untuk masalah-masalah sosial dengan lebih efektif dan bertahan lama. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan sebuah kabar baik tentang inovasi sosial yang ada di tempat lahir dan tempat tinggal saya, Surabaya.

Sebagai kota terbesar ke dua di Indonesia, Surabaya memiliki permasalahan yang cukup kompleks dibandingkan dengan kota lainnya. Bagaimana tidak, jumlah penduduk yang padat serta letak geografis yang otomatis menjadikan Surabaya sebagai pintu gerbang Pulau Jawa di Indonesia bagian timur membuat kota ini menjadi kota yang sibuk dengan segala tuntutan dan kebutuhan yang ada, tak terkecuali masalah sosial seperti kondisi kelompok difabel yang cenderung berada di bawah garis kemiskinan.

Di tengah kesibukan Kota Pahlawan ini, ternyata ada sebuah rumah bernama Rumah Tiara yang berada di daerah Sidosermo, Surabaya. Menariknya, di dalam rumah ini, kegiatan produksi dilakukan oleh belasan pegawai difabel. Mulai dari menjahit, membuat sablon, memotong kain dilakukan di dalam rumah yang tidak terlalu besar ini.

DSC01714
Meski kaki tidak sempurna, ia adalah ahli sablon di Rumah Tiara 🙂 (dok. pribadi)
DSC01711
Meski susunan jari tangan kirinya tidak sempurna, ia sangat terampil menjahit (dok. pribadi)

Melihat saudara-saudara kita berkarya di tengah keterbatasan mereka adalah hal yang luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, saya dan teman-teman lain yang diberi kesempurnaan fisik dari Tuhan saja belum tentu bisa berkarya dan memiliki keterampilan seperti mereka. Bagi saya, rumah ini merupakan sebuah inovasi sosial yang sangat bermanfaat bagi kelompok difabel yang seringkali masih diabaikan. Saya mungkin boleh sedikit berbangga karena inovasi sosial di daerah saya ini bisa jadi berbeda dengan inovasi daerah lain.

DSC01670x
Titik Winarti, pendiri & pembina Rumah Tiara (dok. Pribadi)

Adalah Titik Winarti, seorang ibu dengan empat orang anak yang mendirikan Rumah Tiara ini. Dikenal sebagai rumah produksi kerajinan tangan (handicraft) yang produknya sudah mendunia, Rumah Tiara juga merupakan rumah kedua bagi kelompok difabel tersebut.

Berada di kota metropolitan Surabaya, Rumah Tiara merupakan solusi dari minimnya kesempatan untuk berkarya bagi kelompok difabel. Lihat saja, berapa perusahaan besar di Indonesia yang memberi kesempatan bagi mereka untuk dapat belajar dan bekerja. Tetapi, di rumah ini, kelompok difabel justri dilatih dan diberi kesempatan yang sama untuk belajar dan berkarya sehingga dapat memberi manfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga masyarakat luas.

DSC01704
Di sinilah para pekerja difabel beraktivitas (dok. pribadi)

Meski demikian, Ibu Titik, begitu ia biasa disapa, tidak pernah berniat untuk ‘menjual’ kata-kata difabel di balik produk kerajinan nya. Ia tidak ingin orang membeli produk kerajinan Tiara hanya untuk mengasihani para pegawai difabel.

Tidak hanya itu, Ibu Titik menemukan permasalahan serius yang ada pada kelompok difabel. Baginya, difabel adalah warga kota dan warga negara yang harus diperjuangkan hak-haknya. Meski tidak mudah untuk mengajak para difabel untuk belajar, berlatih, dan berkarya, tetapi mereka memiliki potensi yang sama dengan masyarakat pada umumnya untuk bisa berkarya untuk Indonesia. Diperlukan kesabaran extra karena sebagian besar difabel hanya ingin dikasihani dan tidak memiliki semangat untuk dapat meningkatkan kualitas hidup nya.

DSC01718x
Bersama Mbak Alfia, pekerja difabel di Rumah Tiara (Dok. Pribadi)

Rumah Tiara yang didirikan sejak tahun 1995 ini, kini benar-benar menjadi sumber penghidupan bagi belasan karyawan difabel. Selain dibekali ilmu dan keterampilan, mereka dapat mendapat penghasilan dan menafkahi keluarganya dengan baik. Tidak hanya itu, banyak ‘lulusan’ dari Rumah Tiara yang kini telah memulai bisnis sendiri di daerah tempat tinggalnya.

Bagi saya, inovasi sosial yang diciptakan Ibu Titik ini tidak hanya mulia tapi juga memberi kontribusi yang besar #UntukIndonesia. Belasan penghargaan diterimanya atas jerih payah dan ketulusannya dalam mengentas kaum difabel dari kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Ibu Titik selalu berpesan bahwa kelompok difabel ini hadir untuk kita yang menganggap dirinya normal dan mereka tidak.“Beri mereka kesempatan untuk bisa berkarya, menjalani hidupnya untuk bisa memberi manfaat. Bukan lantas meninggalkan kehidupan dengan sia-sia”, tuturnya.

Harapan saya, semoga semakin banyak inovasi-inovasi sosial serupa yang hadir di tengah-tengah masyarakat untuk Indonesia yang lebih baik.

 

sign

 

*Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s